News  

Komunitas Reptil Bandung Ajak Masyarakat Hilangkan Stigma, Edukasi Penting untuk Jaga Ekosistem

Bandung, Sorottoday.id — Reptil masih kerap dipandang sebagai hewan yang menakutkan dan berbahaya. Padahal, di balik stigma tersebut, hewan melata ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Melalui berbagai kegiatan edukasi, Komunitas Reptil Bandung berupaya mengubah cara pandang masyarakat agar lebih mengenal sekaligus peduli terhadap keberadaan reptil.

Staf Humas Komunitas Reptil Bandung, Firman, mengatakan komunitas yang mereka bangun berfokus pada kegiatan sosial dan edukasi. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang mempercayai mitos tentang reptil sehingga menganggap semua jenis reptil berbahaya.

“Reptil memiliki peran penting dalam ekosistem. Salah satunya sebagai predator alami hewan pengerat seperti tikus. Karena itu, masyarakat perlu memahami keberadaan dan peran reptil di lingkungan,” kata Firman, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan, komunitasnya secara rutin menggelar gathering, edukasi di sekolah, hingga kegiatan bersama berbagai komunitas. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak mengenal berbagai jenis reptil sekaligus mempelajari cara berinteraksi dengan hewan tersebut secara aman.

Firman menilai edukasi menjadi langkah penting agar masyarakat tidak gegabah saat menemukan reptil di lingkungan sekitar. Ia mengaku pernah menjumpai seorang anak yang memegang ular tanpa mengetahui bahwa hewan tersebut merupakan jenis berbisa.

“Pengalaman itu cukup membuat kami terkejut. Dari situ terlihat bahwa edukasi mengenai reptil memang penting agar masyarakat tidak asal memegang hewan yang ditemui,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Komunitas Reptil Bandung, Raisya Nurhaliza, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap seluruh ular berbisa dan membahayakan sehingga memilih membunuhnya saat ditemukan.

Padahal, menurut Raisya, tidak semua ular memiliki bisa. Karena itu, masyarakat diimbau mengenali jenis reptil terlebih dahulu dan tidak mengambil tindakan yang justru membahayakan diri sendiri maupun satwa tersebut.

“Tidak semua ular berbisa. Ketika menemukan ular di lingkungan sekitar, masyarakat perlu memahami jenisnya terlebih dahulu dan tidak langsung mengambil tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun hewan tersebut,” tutur Raisya.

Ia menambahkan, kemunculan reptil di kawasan permukiman sering kali dipicu oleh perubahan atau kerusakan habitat. Kondisi tersebut membuat reptil mencari wilayah baru untuk bertahan hidup.

Melalui berbagai kegiatan edukasi, Komunitas Reptil Bandung terus mengampanyekan slogan “Kenal dan Peduli” sebagai ajakan kepada masyarakat untuk memahami reptil sebelum membentuk penilaian atau mengambil tindakan.

Ke depan, komunitas tersebut berharap dapat menjangkau lebih banyak kalangan melalui program edukasi sehingga masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga keberadaan reptil sebagai bagian dari ekosistem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *