KOTA BANDUNG, sorottoday.id — Di tengah modernisasi pusat Kota Bandung, masih berdiri kokoh sebuah sekolah dasar yang telah menjadi saksi perjalanan pendidikan selama lebih dari 140 tahun. Sekolah tersebut adalah SD Negeri 001 Merdeka yang diyakini sebagai sekolah dasar tertua di Kota Bandung, dengan bangunan utama yang telah berdiri sejak 1884.
Gedung yang berada di Jalan Merdeka itu hingga kini masih difungsikan sebagai tempat belajar. Keaslian bangunannya tetap terjaga karena hanya dilakukan perawatan ringan, seperti penggantian genting yang lapuk, pengecatan, dan perbaikan plafon. Struktur utama, termasuk pintu, jendela, serta sebagian besar material kayu, masih dipertahankan seperti saat pertama kali dibangun.
Humas SDN 001 Merdeka, Firman Mauluddin, mengatakan berdasarkan literatur sejarah yang dimiliki sekolah, gedung tersebut dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1884. Saat itu bangunan digunakan sebagai sekolah bagi anak-anak Belanda pada pagi hari, sedangkan sore harinya dimanfaatkan oleh anak-anak pribumi dari kalangan priyayi.
“Bangunan atau gedung yang sekarang menjadi SD Negeri 001 Merdeka ini menurut sejarah yang tertulis dibangun tahun 1884. Konon digunakan sebagai tempat bersekolah anak-anak Belanda, sedangkan sore harinya digunakan anak-anak pribumi dari kaum priyayi,” ujar Firman saat ditemui di SDN 001 Merdeka, Selasa (30/6/2026).
Bangunan cagar budaya tersebut memiliki lima ruang kelas berukuran sekitar 64 meter persegi. Seluruh ruangan dirancang dengan langit-langit setinggi sekitar empat hingga lima meter sehingga sirkulasi udara tetap baik dan ruangan terasa sejuk meski tanpa pendingin udara modern.
Menurut Firman, kualitas material menjadi salah satu keunggulan bangunan peninggalan Belanda. Hampir seluruh kusen, pintu, hingga rangka bangunan menggunakan kayu jati asli yang masih kokoh dan tidak mengalami kerusakan akibat rayap.
“Bangunan Belanda itu pintunya tinggi, kayunya jati semua dan ini masih asli. Tidak kena rayap. Kalau diganti pasti akan kelihatan jenis kayunya berbeda,” katanya.
Seiring berkembangnya kebutuhan pendidikan, fungsi bangunan mengalami penyesuaian. Dari lima ruang kelas yang dahulu seluruhnya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, kini sebagian dialihfungsikan menjadi ruang kepala sekolah, tata usaha, ruang guru sekaligus ruang rapat. Hanya satu ruang yang masih digunakan sebagai ruang kelas di bangunan bersejarah tersebut.
Firman menjelaskan, sebelum adanya kebijakan penggabungan sekolah pada 2017, kompleks ini dihuni enam sekolah dasar, yakni SDN Merdeka 005 1 hingga 6. Setelah dilakukan penggabungan pada masa Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, seluruhnya berubah menjadi SD Negeri 001 Merdeka.
Kini sekolah berdiri di atas lahan seluas sekitar 3.500 meter persegi dengan total 36 ruang kelas. Sebagian besar merupakan bangunan baru hasil pembangunan pemerintah dan dukungan masyarakat. Meski demikian, gedung utama yang dibangun pada 1884 tetap dipertahankan sebagai identitas sekaligus warisan sejarah pendidikan di Kota Bandung.
Sekolah juga masih menyimpan sejumlah benda bersejarah, seperti papan tulis lipat yang dahulu digunakan untuk menulis dengan kapur. Papan tersebut kini ditutup papan tulis putih untuk mengurangi paparan debu kapur terhadap siswa. Selain itu, lonceng sekolah tua juga masih tersimpan dan sesekali dibunyikan pada momen tertentu.
Firman mengungkapkan, selama lebih dari satu abad bangunan tersebut belum pernah menjalani renovasi besar. Perawatan yang dilakukan hanya sebatas pemeliharaan ringan karena statusnya sebagai bangunan cagar budaya tidak memperbolehkan perubahan terhadap struktur asli.
“Kalau menurut literatur yang saya baca, gedung ini belum pernah dipugar atau direnovasi besar-besaran. Yang pernah dilakukan hanya mengganti genting karena sudah banyak yang lapuk. Struktur bangunannya tetap, karena memang tidak boleh diubah,” jelasnya.
Untuk menjaga kelestarian bangunan bersejarah itu, pihak sekolah mengandalkan anggaran pemeliharaan yang tersedia serta perawatan rutin oleh petugas sekolah.
“Harapan kami ada anggaran khusus untuk pemeliharaan gedung heritage, bukan hanya melalui dana BOS. Gedung ini merupakan bagian dari sejarah pendidikan Kota Bandung sehingga perlu perhatian khusus agar tetap lestari,” ujarnya.
Selain perhatian terhadap bangunan, sekolah juga berharap adanya kebijakan khusus dalam penerimaan murid baru. Menurut Firman, letak sekolah yang berada di kawasan perkantoran, hotel, dan pusat kota membuat jumlah penduduk di sekitar sekolah relatif sedikit sehingga memengaruhi jumlah calon peserta didik.
“Kami berharap ada kebijakan khusus agar jangkauan penerimaan murid bisa diperluas. Dengan begitu eksistensi SD Negeri 001 Merdeka sebagai sekolah dasar tertua di Kota Bandung tetap terjaga dan terus menjadi bagian penting dari sejarah sekaligus masa depan pendidikan di Kota Bandung,” tuturnya.








