Tangerang | sorottoday.id – Kisah pilu datang dari pelosok kampung di wilayah Tigaraksa. Seorang nenek berusia 102 tahun, Suparmi, terbaring sakit selama lima tahun tanpa pengobatan layak dan tinggal di rumah yang jauh dari standar hunian manusiawi.
Nenek Suparmi tinggal di Kp. Ciatuy RT 04/05, Desa Sodong, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Kondisi rumahnya memprihatinkan, atap rapuh dan bocor, tanpa pintu depan maupun belakang, serta dinding hebel yang belum diplester semen. Saat hujan turun, air merembes masuk ke dalam rumah.
Selama lima tahun terakhir, ia hanya terbaring di atas ranjang bambu beralaskan tikar tipis dan selimut lusuh. Penyakit kulit yang dideritanya tak pernah ditangani secara medis.
Madi, anak ketiganya, memilih berhenti bekerja demi merawat sang ibu yang sudah lanjut usia. Sejak ayahnya meninggal dunia, Madi menjadi satu-satunya penopang sekaligus perawat bagi ibunya.
“Selama lima tahun ibu saya sakit dan belum pernah berobat ke dokter, bidan desa, atau Puskesmas. Kami tidak punya biaya,” ujar Madi dengan suara lirih. Senin (2/3/2026).
Ia mengaku pernah menerima bantuan pemerintah pada 2015 berupa program bedah rumah. Kemudian pada 2019 mendapat bantuan dana sebesar Rp800 ribu. Namun setelah itu, tidak ada lagi bantuan yang diterima hingga sekarang, tahun 2026.
Madi berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Tangerang, khususnya Bupati dan Wakil Bupati, agar ibunya bisa mendapatkan perawatan medis yang layak dan rumah mereka dapat diperbaiki.
“Kami hanya berharap pemerintah bisa membantu biaya berobat ibu dan memperbaiki rumah kami yang tanpa pintu dan atapnya bocor. Ibu sudah tua, kasihan kalau terus begini,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi perhatian publik. Di tengah kemajuan daerah dan berbagai program sosial yang digulirkan, masih ada warga lanjut usia yang hidup dalam kondisi memprihatinkan tanpa akses kesehatan memadai.
Lebih lanjut, Mandi berharap kepada Dinas Sosial maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, segera turun tangan melakukan pendataan dan penanganan. Selain bantuan renovasi rumah, akses layanan kesehatan dan jaminan sosial bagi lansia dinilai sangat mendesak.
Kisah Nenek Suparmi adalah potret nyata bahwa masih ada warga yang membutuhkan sentuhan kepedulian dan tindakan nyata dari pemerintah. Kini, harapan itu tertuju pada langkah cepat dan respons konkret agar di sisa usianya, Nenek Suparmi dapat merasakan kehidupan yang lebih layak dan bermartabat.















