“Setelah Kawalu biasanya dilanjutkan dengan Ngalaksa, kemudian Seba. Pada masa Kawalu dulu Urang Kanekes Baduy tidak boleh keluar dan tidak menerima tamu, serta tidak banyak bicara. Kini tradisi tersebut masih dijalankan secara ketat oleh Baduy Dalam,” ujarnya.
Pada momentum pelaksanaan tradisi Kawalu ini, Rohendi mengajak seluruh masyarakat untuk menghormati dan menghargai kearifan lokal serta adat budaya Baduy yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Harapannya, mari kita hargai mereka,” pungkasnya.
red








