KOTA BANDUNG, sorottoday.id — Pemerintah Kota Bandung mempercepat upaya penanganan sampah dengan menyiapkan 220 titik pengolahan berbasis kewilayahan. Langkah ini ditargetkan mampu mengurangi timbulan sampah hingga 250 ton per hari sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang saat ini mengalami pembatasan kuota, sementara produksi sampah Kota Bandung mencapai sekitar 1.511 ton setiap hari.
Ketua Tim Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Syahriani, mengatakan perubahan sistem pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga dan lingkungan sekitar, Rabu (1/7/2026).
“Pembatasan kuota TPA Sarimukti harus menjadi momentum perubahan. Kota Bandung tidak bisa lagi bergantung pada pola lama ‘kumpul, angkut, buang’. Ke depan, sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya melalui pengelolaan di tingkat rumah tangga dan kewilayahan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari program tersebut, Pemkot Bandung telah menginventarisasi berbagai lokasi yang akan dijadikan fasilitas pengolahan sampah agar masyarakat memiliki akses lebih mudah untuk mengelola sampah di wilayah masing-masing.
Program ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui uji coba teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Selain itu, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat turut menyiapkan bantuan mesin pengolahan sampah guna memperkuat fasilitas yang akan dibangun.
Menurut Syahriani, pembangunan 220 titik pengolahan sampah tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana, tetapi juga bertujuan membangun sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan di setiap wilayah.
“Pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah bukan sekadar menambah infrastruktur, tetapi membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Harapannya, setiap wilayah mampu mengolah sebagian besar sampahnya sendiri sehingga hanya residu yang dikirim ke TPA,” katanya.
Melalui pengolahan sampah organik, daur ulang sampah yang memiliki nilai ekonomi, serta penerapan teknologi RDF, Pemkot Bandung menargetkan pengurangan timbulan sampah antara 125 hingga 250 ton setiap hari.
“Kami menargetkan pengurangan sampah sebesar 125 hingga 250 ton per hari. Namun, keberhasilan target ini tidak hanya bergantung pada teknologi seperti RDF, melainkan juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumber,” tambah Syahriani.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Nunung Nurasiah, menyatakan dukungan terhadap percepatan penanganan sampah melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Ia juga mengajak masyarakat membiasakan memilah sampah sejak dari rumah agar volume sampah yang dibuang ke TPA terus berkurang.








