News  

Puspita Sakura Lolos Seleksi ASN Berprestasi Jabar, Cara Baru Bekasi Perluas Skrining HIV

Bekasi, Sorottoday.id — Inovasi Puspita Sakura yang dikembangkan Kepala Puskesmas Sukadami Kabupaten Bekasi, dr. H. RM Adi Pranaya, MARS., MKK, berhasil lolos Tahap 3 seleksi penghargaan ASN Berprestasi tingkat Provinsi Jawa Barat.

Inovasi berbasis pentahelix tersebut dikembangkan sebagai upaya memperluas pencegahan, edukasi, dan skrining HIV dengan melibatkan masyarakat serta lingkungan sekolah. Program ini sekaligus diarahkan untuk mendukung target Kabupaten Bekasi Bebas HIV Tahun 2030.

Adi mengatakan, penanganan HIV tidak cukup hanya mengandalkan masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan. Menurutnya, pelayanan dan edukasi perlu lebih dekat dengan lingkungan kehidupan masyarakat.

“Upaya menghadapi tantangan HIV tidak cukup hanya dengan menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan. Karena itu, pelayanan perlu didekatkan ke ruang kehidupan masyarakat, salah satunya melalui Posyandu dan sekolah,” ujar Adi, Selasa (6/10/2026).

Melalui Puspita Sakura, kader Posyandu diberdayakan menjadi Kader Puspita Sakura. Sementara di lingkungan sekolah dikembangkan Duta Puspita Sakura yang melibatkan Kader Kesehatan Remaja dan UKS/M.

Keduanya berperan dalam memperluas edukasi, komunikasi, skrining, hingga rujukan sesuai mekanisme pelayanan kesehatan yang berlaku.

Adi menjelaskan, gagasan utama Puspita Sakura adalah mengubah pola pelayanan yang selama ini lebih banyak menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan menjadi pendekatan yang lebih proaktif melalui pemberdayaan jejaring masyarakat dan sekolah.

“Gagasan utama Puspita Sakura adalah mengubah pola layanan dari pendekatan yang dominan menunggu di fasilitas kesehatan menjadi pendekatan yang lebih proaktif dengan memberdayakan jejaring masyarakat dan sekolah,” jelasnya.

Menurutnya, inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab sejumlah tantangan dalam layanan HIV. Di antaranya koordinasi lintas program dan sektor yang belum terpadu, rendahnya cakupan skrining, keterbatasan akses masyarakat, edukasi yang belum optimal, stigma terhadap HIV, serta keterbatasan sumber daya untuk memperluas jangkauan pelayanan.

“Melalui pemberdayaan masyarakat dan sekolah, kami ingin memperluas kepedulian dan edukasi HIV sekaligus meningkatkan deteksi dini melalui skrining, termasuk menjangkau masyarakat yang sebelumnya belum terhubung dengan layanan,” ungkap Adi.

Dalam penerapannya, Puspita Sakura juga diperkuat dengan sejumlah perangkat implementasi, seperti SOP, Buku Panduan Puspita Sakura, e-book panduan, Kartu Puspita Sakura, serta instrumen skrining berbasis Google Form.

Pengembangan inovasi tersebut turut mendapat dukungan lintas sektor dan melibatkan kolaborasi dengan lima LSM peduli HIV serta sejumlah mitra lainnya.

Adi menegaskan, keberhasilan Puspita Sakura tidak semata-mata diukur dari pencapaian dalam ajang penghargaan ASN Berprestasi. Lebih jauh, inovasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak terhadap perluasan pencegahan dan deteksi dini HIV di Kabupaten Bekasi.

“Keberhasilan inovasi ini bukan semata-mata diukur dari penghargaan, tetapi dari seberapa jauh Puspita Sakura mampu memperluas jangkauan pencegahan, meningkatkan kesadaran, memperkuat skrining sejak dini, dan menghubungkan masyarakat yang membutuhkan dengan layanan kesehatan,” imbuhnya.

Ke depan, Puspita Sakura diharapkan semakin memperkuat kolaborasi antara Puskesmas, Posyandu, sekolah, pemerintah desa, perangkat daerah, komunitas, dunia usaha, dan berbagai mitra strategis lainnya.

“Gerakan kolaboratif harus terus diarahkan untuk memperluas upaya mitigasi HIV dan mendukung terwujudnya Kabupaten Bekasi Bebas HIV Tahun 2030,” pungkas Adi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *